6 Rukun Nikah Yang Wajib Diketahui Dan Penjelasannya Lengkap

Posted on

6 Rukun Nikah Yang Wajib Diketahui Dan Penjelasannya Lengkap

Rukun Nikah – Arti dari akad adalah perjanjian, simpul atau kesepakatan. Jika akad tersebut dihubungkan dengan nikah, artinya seorang lelaki menikahi wanita atau proses ikatan janji dengan wanita melalui wakilnya. Tujuannya yaitu untuk membina rumah tangga seperti yang disunahkan oleh Rasulullah SAW.

Tujuan lain dari menikah adalah agar jiwa menjadi lebih tenang, serta tersalurkannya syahwat manusia dengan halal lalu melahirkan keturunan yang sah. Tujuan dan syarat itu menjadi penentu di dalam perbuatan hukum, terutama yang berkaitan dengan sah atau tidaknya perbuatan yang dilakukan dari segi hukum.

Rukun nikah adalah sesuatu yang ada di luarnya tapi tak menjadi unsurnya. Rukun nikah bisa menjadi suatu perbuatan, termasuk nikah yang batal atau tak sah menurut hukum. Sedangkan syarat yang berkaitan dengan rukun dalam arti syarat berlaku untuk setiap unsur dalam rukun. Agar pernikahan sah tidak batal, maka rukun dan syarat nikah harus dipenuhi sesuai dengan syariat agama.

Pengertian Nikah

Secara bahasa, nikah artinya adalah mengumpulkan, menghimpun. Sementara berdasarkan istilah syari’at, nikah adalah suatu akad yang tujuannya untuk menghalalkan seorang lelaki dengan perempuan yang hendak dinikahi.

Antara lelaki dengan perempuan itu bukan muhrim yang kemudian menjadi suami istri. Di dalam pernikahan, harus ada ijab kabul yang disaksikan beberapa saksi dan juga wali. Semuanya memiliki syarat sendiri yang harus dipenuhi.

Hukum menikah adalah sunnah muakad. Yang merupakan sunnah yang dianjurkan oleh Nabi. Namun hukumnya bisa berubah sesuai dengan kondisi orang yang akan menikah tersebut. jika seseorang menikah untuk menghindari perzinahan, maka hukumnya sunnah. Namun jika niatnya buruk, maka hukumnya menjadi makruh/haram.

Baca Juga :   Doa Setelah Sholat Fardhu (Arab, Latin dan Terjemahannya)

Rukun Nikah

Shighat atau Ijab Qabul

Ijab adalah persyaratan wali dalam menyerahkan mempelai wanita pada mempelai pria. Sedangkan qabul adalah pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab yang menjadi bukti bahwa kedua belah pihak telah rela.

Para ulama sepakat bahwa ijab kabul menjadi rukun di dalam pernikahan. Seperti rukun yang lainnya, ijab kabul juga memiliki syarat. Diantaranya :

  • Akad pada ijab qabul harus memakai tazwijun nikah atau yang di dalam bahasa Indonesianya berarti nikah saja. Maka tidak sah apabila di dalam ijab qabul ditambahkan dengan kalimat yang lain.

Seperti yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW :

“Takutlah kepada Allah di dalam urusan perempuan. Sesungguhnya, kami mengambil mereka dengan kepercayaan Allah Dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan menggunakan kalimat Allah (HR. Muslim)”

  • Antara ijab dan juga qabul tidak diselingi oleh perkataan yang tidak ada kaitannya dengan tuntutan nikah, maslahat nikah, dan sunnah di dalam akad nikah. Karena itu akan menjadikan seolah-olah seseorang menjadi keluar dari jawaban akad tersebut.
  • Di antara ijab dan juga qabul harus sejalan maksud dan juga artinya. Sehingga antara keduanya harus sejalan.
  • Ijab dan juga qabul tersebut tidaklah digantungkan dengan apapun, misalnya apabila menikah dengan ketentuan tertentu seperti seorang ayah mau menikahkan anaknya dengan lelaki apabila lelaki tersebut memiliki keturunan laki-laki dan lain sebagainya.
  • Akad atau ijab qabul yang dilakukan sama sekali tidak menyebut batas waktu. Misalnya seperti kawin kontrak dan lain sebagainya.
  • Akad tersebut dilarang menyebutkan suatu syarat yang dapat merusak tujuan daripada pernikahan.
  • Wali dan juga calon suami harus tetap di dalam keadaannya. Mulai dari akad nikah sampai selesai. Apabila diketahui salah satu dari keduanya pingsan atau gila sebelum akad tersebut selesai, maka pernikahan tersebut tidaklah sah atau batal.

Ada Mempelai Pria

syarat-syarat yang mesti dipenuhi baik itu oleh laki-laki ataupun perempuan saat melangsungkan akad nikah adalah :

  • Identitas keduanya sangat jelas dan dapat dibedakan dengan manusia yang lain.
  • Agama kedua pihak sama-sama Islam.
  • Di antara keduanya sedang tidak dalam kondisi terlarang untuk melakukan pernikahan.
  • Pernikahan hanya diizinkan jika antara pria dan juga wanitanya telah dewasa.
Baca Juga :   Pengertian : Hikmah Dan Dalil Iman Kepada Hari Kiamat Lengkap

Syarat khusus yang harus dipenuhi oleh mempelai pria yaitu :

  • Ia adalah seorang muslim dan mukallaf (yakni berakal sehat, baligh dan merdeka).
  • Lelaki tersebut bukanlah mahram dari calon istri.
  • Tidak menikah di dalam keadaan terpaksa.
  • Orangnya jelas.
  • Tidak sedang melakukan ibadah haji.

Adanya Mempelai Wanita

Syarah khusus mempelai wanita dalam melangsungkan pernikahan yaitu :

  • Muslimah yang sudah mukallaf.
  • Tidak sedang berhalangan syar’i atau ia tidak bersuami, tidak sedang ada dalam masa indah dan ia juga bukan mahram dari calon suami.
  • Tidak menikah di dalam keadaan terpaksa.
  • Orangnya jelas dan dapat dibedakan.
  • Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Adanya Wali

Wali merupakan syarat penting dalam pernikahan. Bahkan menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar lagi. Sesuai dengan hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad yang artinya :

“Tidak ada sebuah pernikahan tanpa adanya wali”

Syarat wali di dalam  sebuah pernikahan yang harus diperhatikan yaitu :

  • Muslim, laki-laki dan mukallaf (berakal sehat, baligh dan merdeka)
  • Adil
  • Tidak dalam keadaan terpaksa
  • Tidak sedang melakukan ibadah haji
  • Memiliki perwakilan

Wali berperan penting di dalam pernikahan. Seorang wanita yang menikah tanpa wali, maka pernikahannya tidak sah. Sesuai dengan hadist Nabi berikut ini :

“Wanita mana saja yang tidak dinikahkan oleh walinya, maka nikah nya batal, nikah nya batal”

DI dalam KHI pasal 20 ayat 2 juga disebutkan bahwa wali dibagi menjadi dua jenis secara garis besarnya. Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah “Wali nikah terdiri dari wali nasab dan wali hakim”.

Ada Dua Saksi

Walaupun semua hadir di acara prosesi pernikahan, tetapi dalam islam terdapat syarat dua orang saksi yang jujur dan adil agar pernikahan menjadi sah. Di dalam pasal 25 dan 26 KHI disebutkan bahwa:

Baca Juga :   Shalat : Pengertian, Syarat dan Rukun Shalat "Lengkap"

“Bahwa bisa ditunjuk menjadi saksi di dalam akad nikah merupakan seorang laki-laki yang muslim, adil, baligh, dan ingatannya tidak terganggu serta tidak tuna rungu ataupun tuli”

“Saksi wajib hadir kemudian menyaksikan secara langsung prosesi akad nikah dan juga menandatangani akta nikah di mana dilangsungkan akad nikah tersebut”

Syarat sah menjadi saksi yaitu :

  • Ia adalah seorang muslim laki-laki dan mukallaf.
  • Ia adalah seorang yang adil.
  • Ia adalah seorang yang mampu melihat dan juga mampu mendengar.
  • Ia adalah orang yang tidak dalam keadaan terpaksa.
  • Ia adalah orang yang faham akan bahasa yang dipakai saat ijab qabul.
  • Ia tidak sedang melakukan ibadah haji.

Mahar

Syarat dan ketentuan mahar yaitu :

  • Mahar adalah pemberian wajib yang tak dapat diganti dengan jenis barang yang lainnya. Yang memberi mahar ini adalah dari suami ke istri, baik yang diberikan sebelum/sesudah atau ketika akad nikah berlangsung. Hal ini juga sesuai dengan hadist Nabi yaitu :

“Berikahlah mahar atau mas kawin kepada wanita yang engkau nikahi sebagai bentuk pemberian dengan penuh keikhlasan. Kemudian apabila mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari mas kawin tersebut dengan sesuka hati, maka ambillah pemberian tersebut sebagai makanan yang sedap dan sangat baik akibatnya”

  • Mahar yang diberikan kepada istri sebagai hal yang wajib tersebut nantinya akan menjadi hak milik istri, bukan hak milik mertua.
  • Mahar yang tidak dibayarkan secara tunai pada saat akad nikah maka sesudah adanya persetubuhan antara suami dan istri harus segera dilunasi.
  • Mahar bisa dinikmati suami dan istri apabila sang istri memberikannya dengan penuh kerelaan.
  • Adapun kadar dari mahar sendiri tidak ada batasannya dan nilainya. Ajaran Islam memberikan kadar ini sesuai dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Bisa memberi mahar dalam jumlah yang sedikit namun harus tetap berbentuk, memberikan nilai serta manfaat.

Hikmah Pernikahan

  • Dapat menyalurkan naluri seksual dengan sah dan terpuji
  • Memelihara keturunan
  • Terbentuk keluarga harmonis

Sekian pembahasan mengenai Rukun Nikah dan penjelasannya, serta hikmah pernikahan secara lengkap. Semoga dapat dipahami, diaplikasikan dan bermanfaat bagi anda semua.

Baca Juga :